MELANDA
Karya: Silfia ZahratushifaDalam hasrat toksik,
pantulan wajah terukir indah,
namun busuk hati bersemayam di dalamnya.
Senyum merekah bak bunga,
sementara niatnya tumbuh seperti duri.
Tak tampak oleh mata,
namun perlahan melukai
setiap jiwa yang mendekat.
Tempat untuk bersandar dan bercerita,
kini hancur berkeping-keping.
Pecahannya masih menyisakan jejak,
tentang kepercayaan
yang pernah kuberikan sepenuhnya.
Kini, bahkan sunyi
terasa lebih ramah
daripada telinga
yang pernah kupercaya.
Bahu kokoh yang dahulu menjadi sandaran,
kini memojokkan jiwa
pada kehidupan
yang tak kunjung memberinya napas.
Apakah jiwa ini salah?
Ingin meminta sesuatu—
hati terlepas dari tekanan
yang terus melanda,
dari sesuatu yang menghakimi,
bahkan nyawa ini tidak bersalah.
Mengapa hati yang hanya ingin bersandar
harus kembali belajar
menahan segala sesak sendirian?
Oleh itu,
menjalani hidup di lingkungan
yang tidak kuinginkan
hanya menyisakan
lelah batin.
Bekasi, 14 September 2026