Mata Air di Bawah Tanah
Karya: Septian Aprilia RamadhanDalam lorong kehidupan,
jantung berdetak kencang,
menghadapi sungai yang terus menerjang.
Aku menuai aliran racun
yang menggenang di permukaan;
kuasa tak terbendung
terus meluap di atas jiwa.
Menimbun tubuhku
dengan titah-titah semu,
tanpa menyisakan ruang
bagi napasku untuk pulang.
Kusimpan gemuruh tangis
jauh di dasar dada,
hingga pada ujung jiwa—
telanjang, kudekap tanah.
Di kedalaman itu,
luka tumbuh tanpa suara;
menjadi sungai kecil
yang kehilangan muara,
mengendap di sela akar
dan gelap tanah.
Namun mata air itu
tetap berdiam di bawahnya;
mengalir tanpa suara,
tak tersentuh racun di permukaan.
Mojokerto, 05 September 2026