KARAT
Karya: Riska Krisdayanti LaseRumah itu tegak,
tampak utuh seperti biasa.
Jendelanya terbuka,
sebuah gembok tergantung
di pintu yang tertutup.
Hanya atapnya
mulai menua,
menyisakan setitik celah
bagi hujan untuk bertamu.
Berkali-kali
hujan datang
lewat retak yang baru,
membasahi setiap sudut rumah.
Aku menaruh ember,
mengira sebuah wadah
bisa menampung segala
yang telanjur tumpah.
Air tak lagi betah di lantai.
Ia merayap menuju pintu,
membasahi gembok
yang lama mendekapnya.
Tetes demi tetes
menyentuh besi.
Waktu berlalu.
Gembok yang dulu mengilap
mulai kusam,
merah kecokelatan,
lalu sulit digerakkan.
Malam iitu
aku mencoba membuka pintu
Kunci masuk,
tetapi gembok tak bergerak.
Kucoba sekali lagi,
tetap tak terbuka.
Hingga jemariku menyentuh besi
yang dingin, berkarat, dan kaku.
Baru kusadari—
gembok itu bukan untuk
menghalangi mereka masuk.
Ia untuk mencegahku
keluar.
Perawang, 9 September 2026