Keringat yang Dijual Murah
Karya: Ria KartikaDi setiap fajar kutelan pecahan suara,
Kusembunyikan di balik perintah yang bertubi.
Kupaksa lupa, tapi luka menolak padam,
Menggema di dada seperti azan mengumandang
Setiap hari kami disuapi janji basi,
Dibungkus dengan kata "bersabarlah nanti".
Darah di ujung kuku mereka hisap perlahan,
Lalu diberi label suci: "pengabdian"
"Bilang kita keluarga," ucap mereka,
Nyatanya kami tamu di meja sendiri.
Satu ruangan, satu atap, satu nama,
Tapi asing. Seasing embun di daun tetangga.
Bicara, pintunya dikunci PHK.
Berdiam, bayarannya caci maki
Gaji mungil disulap jadi ceramah "ikhlas",
Ikhlas yang disodorkan, bukan yang dipilih.
Ingin melangkah, tapi jalan masih gelap.
Belum ada gagang pintu yang bisa digenggam.
Tergantung antara bertahan demi perut,
Dan harga diri yang kian tergerus waktu.
Ya Tuhan, lihatlah...
Keringat ini jatuh bukan dari kemalasan.
Air mata ini tumpah bukan karena manja.
Kami manusia yang bekerja di ujung harap,
Menanti hari saat peluh kami ditimbang setimpal.
Tanjungbalai 05 September 2026