Menimang Kekalahan
Karya: Rahma AuliaJuang Kemarin, Tak Bernilai, ya?
Pada akhirnya, aku tersungkur di medan laga,
Tak sanggup berdiri memikul lara.
Memungut sisa martabat yang tersisa,
Menjauh dengan malu yang menggema.
Aku pulang dengan lara,
Disertai senyum penuh muslihat.
Mulutku tak banyak bicara,
Terbungkam manusia dan tuntut.
Langkahku lemah,
Hatiku mulai rapuh.
Sesuatu menghantamku dengan hebat.
Menamparku pula dengan laknat.
Kata “kalah” mengarungi kepala.
Memekakkan telinga yang semakin riuh.
Seolah, seluruh juang peperangan kemarin tak ada nilainya,
Jika disandingkan dengan kekalahan yang masih basah.
Aku mengadu pada Tuhan
Atas rasa kecewa yang menyesakkan
Buliran bening tak sanggup lagi kutahan,
Akhirnya jatuh di sela sujud yang berkepanjangan.
Sekejap, dunia seperti berbeda.
Terlihat … berganti neraka.
Kekalahan yang mulai terasingkan,
Kini kembali menggandeng di tangan.
Kemenangan berkali-kali, tak ada yang peduli.
Namun kekalahan sekali, diungkit hingga mati.
Manusia terlampau bagus,
Tega menyerapahi hingga sadis.
Bukankah kita tidak sedang membicarakan hukum,
Mengapa mereka pandai sekali berlagak layaknya hakim?
Lagi pula, siapa yang sudi menimang kekalahan dengan kecewa?
Semua manusia pun ingin meminang kemenangan disertai tawa!
Palembang, 25 Agustus 2026