Di Antara Air Mata dan Pagi
Karya: Nur ZairaDi Antara Air Mata dan Pagi
Malam menggantungkan sunyi
di ujung jendela yang basah.
Aku masih duduk di sana,
menghitung detik yang tak pernah kembali,
seperti menghitung langkah
seseorang yang memilih pergi.
Di atas meja, secangkir teh telah dingin.
Tak ada lagi suara yang memanggil namaku,
hanya detak jam
yang terdengar semakin jauh.
Air mata akhirnya jatuh—
bukan karena aku lemah,
melainkan karena ada luka
yang terlalu lama kupaksa diam.
Aku belajar:
tidak semua kehilangan harus dilupakan.
Sebagian cukup dikenang
tanpa harus terus ditangisi.
Lalu pagi menyibak tirai.
Cahayanya jatuh di wajahku
dan untuk pertama kalinya,
aku tidak takut melihat hari.
Tangisku belum benar-benar usai,
tetapi langkahku sudah dimulai.
Pekanbaru, 30 Agustus 2026