MERAPAL DOA DI UJUNG TANGIS
Karya: Niar Puji CayatiSamar, masih tercium aroma khasmu.
Tergiang senyum letihmu akan candaanku.
Sampai kini aku masih merana pilu.
Kepergianmu adalah luka paling menghujam.
Tangis ini tak hanya wujud dari lara itu,
tetapi juga penyesalan akan ketidakberdayaanku.
Begitu inginnya memutar ulang waktu itu,
mengukir fragmen kenangan lebih banyak bersamamu.
Kini, hanya doa yang bisa kurapal saat merindukanmu dalam sepi.
Jarak yang terlampau jauh ini sangat meluruhkan langkahku.
Dengan tangis ini, aku melepasmu perlahan dan ikhlas.
Dan setelah tangis ini pula, aku akan
melanjutkan hidupku sendiri.
Sidoarjo, 5 September 2026