Barangkali Aku yang Terlalu Banyak Meminta
Karya: NAAILAH NUR HASANAHHari ini aku mengeluh lagi.
Tentang hidup yang tak sesuai harapan,
tentang keinginan yang belum menjadi nyata,
tentang orang-orang yang menurutku
mendapatkan hidup lebih mudah dariku.
Aku mengeluh
seolah-olah dunia berutang kebahagiaan kepadaku.
Sampai langkahku berhenti
di depan seorang lelaki tua.
Ia duduk di atas trotoar,
menjajakan sesuatu yang entah sejak kapan
tak disentuh pembeli.
Hari mulai gelap.
Dagangan masih banyak.
Namun ia tetap tersenyum
kepada orang yang sekadar bertanya harga.
Aku berjalan lagi.
Seorang pengemudi ojek daring
duduk di atas motornya, menunggu.
Layar ponselnya menyala,
kemudian padam.
Menyala lagi,
lalu padam.
Ia menunggu rezeki
yang bahkan tak bisa ia pastikan datang.
Tak jauh dari sana
seorang ibu meminta-minta.
Di sampingnya seorang anak kecil
tertidur dalam pelukannya.
Anak itu mungkin tidak mengerti
mengapa ibunya duduk di pinggir jalan.
Ia hanya tahu
bahwa pelukan itu hangat.
Dan untuk sesaat
aku berharap anak itu tidak pernah tahu
betapa keras dunia
yang sedang dipeluk ibunya.
Namun semakin jauh aku berjalan,
semakin aku sadar—
jangan memandang manusia
hanya dari apa yang terlihat oleh mata.
Di pinggir jalan,
kulihat seorang waria
mengumpulkan uang dari orang-orang yang lewat.
Mungkin banyak yang memandangnya dengan hina,
tanpa pernah tahu
uang yang dikumpulkannya hari itu
akan dibawa pulang untuk biaya sekolah adiknya.
Adiknya bahkan mungkin tidak tahu
bagaimana kakaknya mendapatkan uang
agar ia tetap bisa belajar.
Lalu aku teringat seseorang
yang pernah kulihat sebagai penjahat.
Seorang pencuri motor.
Perbuatannya tetap salah.
Tetap ada orang yang dirugikan.
Namun siapa yang tahu,
barangkali di rumahnya
ada seorang ibu yang sedang sakit,
dan ia sedang mencari cara
membayar perawatannya.
Memahami bukan berarti membenarkan.
Tetapi barangkali kita memang
tidak pernah tahu seluruh cerita seseorang.
Maka malam itu aku terdiam.
Mereka yang hidupnya jauh lebih berat
justru ga seberisik kita.
Mereka tidak sibuk menceritakan
betapa kerasnya hidup.
Mereka hanya menjalaninya.
Dan aku?
Sudah diberi begitu banyak,
namun masih sibuk menghitung
apa yang belum diberikan.
Malam semakin larut.
Aku menatap langit
dan akhirnya berkata,
“Tuhan, maaf.
Selama ini aku terlalu cepat menilai,
terlalu banyak meminta,
dan terlalu sedikit bersyukur.”
Sebab mungkin,
orang yang paling sering kita rendahkan
adalah seseorang
yang setiap malam menangis diam-diam
agar orang yang dicintainya
bisa tersenyum esok pagi.
Dan mungkin—
mereka ga seberisik kita
karena mereka terlalu sibuk bertahan
Gresik, 14 September 2026