Geometri dari Napas yang Tersisa
Karya: Muhammad Hilbram SyaddamDunia adalah porselen yang jatuh, dan kita adalah lem yang terlalu lelah untuk merekatkannya. Di sinilah tawa muncul: bukan sebagai obat manjur, melainkan celah sempit tempat cahaya menyelinap masuk.
Kita sering lupa bahwa untuk tetap waras,
tak perlu mahakarya atau harta karun. Cukup satu tawa pendek di tengah reruntuhan, sebuah pemberontakan ringan melawan beratnya gravitasi nasib. Itulah mata uang paling rendah nilai nominalnya, namun paling tinggi daya belinya untuk jiwa yang bangkrut.
Ia adalah jangkar bagi kapal yang kehilangan laut, dan kompas di tengah badai tanpa arah. Kita tertawa bukan karena luka itu hilang, tapi karena kita sadar: rasa sakit pun punya irama.
Dan di penghujung nada, ketika hening kembali menyapa, ternyata bukan kebahagiaan yang menyelamatkan kita, melainkan keberanian menemukan lelucon di dalam surat perceraian yang dikirimkan oleh nasib.
Kuala Tungkal, 14 September 2026