Air mata yang belajar diam
Karya: Muhamad Fadlan AlfiandiMalam menyimpan tangisku dengan baik,
tak membocorkan satu pun kepada pagi.
Kuberi senyum pada dunia,
sementara hati sibuk merapikan dirinya sendiri.
Ada luka yang terlalu dalam untuk diceritakan,
bukan karena tak ingin didengarkan,
tetapi karena beberapa kesedihan
hanya mampu dipahami oleh kesunyian.
Aku pernah menyalahkan air mata,
menganggapnya tanda bahwa aku kalah.
Namun ternyata ia hanya cara hati
mengeluarkan beban yang terlalu lama dipikul.
Biarkan malam menjadi saksi,
ketika pertahananku perlahan runtuh.
Esok aku akan kembali berdiri,
membawa hati yang sedikit lebih utuh.
Jika suatu hari kau melihatku tersenyum,
jangan kira aku tak pernah menangis.
Sebab manusia bukanlah mereka
yang tak pernah terluka,
melainkan mereka yang tetap memilih melangkah
setelah air matanya jatuh.
Tasikmalaya, 11 September 2026