Mochammad fadilah - Tangis yang tertutup oleh senyum (OSN 3.8)

📅 01 September

 Tangis yang tertutup oleh senyum

Karya: Mochammad fadilah



Tak ada yang lebih nikmat dari secangkir kopi di pagi hari, di temaninya dengan sepotong roti yang di belinya dari kedai yang sederhana, di teguk nya kopi itu dengan nikmat dengan suara seruputan yang terdengar sangat amat candu, setelah kopi masuk ke tenggorokan menuju lambung, hidup terasa seperti tak pernah ada masalah.
Namun pagi juga terlalu sunyi untuk sebuah rahasia dan dada terlalu sempit untuk menampung sebuah badai.
Ada yang rapuh tanpa suara di sudut kamar ini, namun anehnya tak pernah meninggalkan serpihan sedikitpun.
Diluar, suaraku adalah riuh yang paling nyaring, merayakan hidup yang mereka lihat tanpa taring, namun dalam dada sunyi merayap begitu dingin, menatap reruntuhan mimpi yang berantakan tertiup angin, namun senyum adalah benteng pertahanan terbaik ku, sebuah topeng kokoh dari rapuh nya seluruh jiwaku agar dunia tak perlu repot-repot mengasihani atau terlalu perduli.
Hanya pagi dan secangkir kopi yang tahu rahasia di balik pikiran dan kelopak mataku saat lampu panggung itu padam dan topeng berganti rupa senyum itu akhirnya luruh, menjelma menjadi rintik yang amat deras membasuh luka yang seharian terpaksa di kemas,
Lalu aku bertanya darimana datangnya air matamu ,wahai jiwa?
Apakah iya adalah kiriman dari masalah-masalah yang belum usai?
Atau, ia kiriman dari masa depan yang suram dan menakutkan?
Iya datang bagaikan tamu tak di undang, mengetuk pintu kelopak mataku yang lelah, lalu tumpah, tanpa permisi dan tanpa basa-basi.
Kita sering dipaksa menjadi batu, berdiri tegak ditengah badai, dan tersenyum di hadapan dunia yang menuntut kesempurnaan.
"Jangan menangis kata mereka", " Menangis itu lemah"bisik mereka yang hidupnya sudah terjamin oleh kekayaan orang tuanya.
Maka aku mengunci rapat semua luka, menyimpan nya menjadi secangkir kopi,berharap ia dapat menguap bersama mimpi.
Namun esok ketika matahari kembali terbit, aku akan kembali menyeduh dan menyeruput secangkir kopi yang biasa ku minum di pagi hari, ku sapu sisa air mata yang masi sedikit, lalu ku pasang lagi..... senyum yang biasa.
Sebab dunia tak perlu tahu seberapa sedih nya aku, mereka hanya ingin melihat aku utuh, maka biarkan lah ku telan dan ku tahan seluruh perih itu, dibalik tangis yang tertutup oleh senyum


Jakarta, 05 maret 2026