Seindah Senja di Balik Lara
Karya: Meysah NabilaDi bibir senja, kau menaruh sedikit riang,
seperti aruna yang jatuh ke permukaan telaga—
hangatnya singgah di kulit,
jingganya tinggal di mata.
Dari beranda, harum tanah selepas hujan
mengusik kenangan yang belum sempat menjadi nama.
Kau tertawa; bening dan ringan,
namun entah mengapa,
di sela riuhnya, kudengar nirvฤแนa
yang terlalu sunyi untuk disebut bahagia.
Barangkali, ada duhkha
yang kau lipat bersama sore,
diselipkan di antara halaman
buku yang tak pernah selesai dibaca.
Lalu matahari turun perlahan,
membawa warna terakhirnya.
Kau masih tersenyum.
Hanya saja,
sejak senja itu,
aku tak lagi tahu
mana yang sedang berpamitan—
cahaya,
atau kita.
Bogor, 07 September 2026.