Di balik topeng beribu arti
Karya: Mauliya nur mala.Aku berdiri di tengah riuh rendah dunia,
Namun sunyi menggema di relung dada.
Wajahku tersenyum pada semesta,
Padahal hati retak menahan luka yang tak bersuara.
Siapakah aku di antara seribu nama?
Topeng demi topeng kupakai setiap hari.
Kutertawa agar tiada yang bertanya,
Kutegakkan badan agar tiada yang mengasihani.
Apakah aku bayang yang mengejar cahaya,
Ataukah cahaya yang terperangkap dalam kelam?
Kucari diriku dalam cermin yang retak,
Namun yang terpantul hanyalah asing dan sayu.
Bahkan kutak tahu apakah aku benar-benar ada,
Atau sekadar singgah sebentar dalam ingatan mereka.
Terkadang, tempat yang kita anggap paling nyaman,
Justru menjadi rahim bagi luka terbesar.
Rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan berkeluh kesah,
Malahan menjadi ladang duka yang tak berujung.
Di sana, aku tak pernah tenang saat menyantap hidangan.
Entah cacian, makian, atau pilihan kasih yang selalu diabaikan—
Hal yang bagi mereka mungkin biasa saja,
Namun bagiku, itu adalah racun yang perlahan membunuh jiwa.
Makan bukan sekadar mengisi perut,
Tapi fondasi mental dan karakter yang sedang runtuh.
Aku hanya menginginkan ketenangan untuk menikmati suapan,
Tanpa harus tersiksa dengan air mata dan luka batin.
Di sekolah, mereka bilang aku "ingin dipahami",
Padahal bibirku tak pernah sekali pun mengucapkan kata itu.
Aku heran bagaimana mereka begitu mudah menyimpulkan,
Sementara mereka tak pernah benar-benar melihat apa yang kualami.
Aku selalu menjadi sandaran, tempat mereka mencurahkan isi hati,
Namun aku bingung, ke mana harus kuarahkan langkahku?
Di manakah tempatku bercerita,
Untuk melampiaskan rasa sakit yang kupendam bertahun-tahun lamanya?
Semua orang bersandar padaku,
Lalu, di manakah aku boleh bersandar?
Sampai pada suatu titik, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya,
Agar api amarah dan perih ini sedikit mereda.
Namun realita begitu kejam:
Jika kupendam, aku bisa masuk rumah sakit jiwa.
Jika kuceritakan, aku malah dicap sakit.
Dan jika kulampiaskan, aku bisa berakhir di balik jeruji polisi.
Tuhan, jika Engkaulah yang menciptakan hamba-Mu ini,
Tunjuklah jalan untuk mengenal diri sendiri.
Karena aku lelah menjadi orang lain di balik topeng tebal ini.
Aku hanya ingin pulang...
Pulang menjadi diriku yang sebenarnya.
Kaltim,31 Agustus 2026.