Tembok Cokelat
Karya: Luluk Catur LesatriDi sudut putih yang kini kian mencokelat
sandaran pudar ini menyimpan kesunyian dari sebuah rona penderitaan
Kilat cahaya kota menyaksikan detik demi detik yang berjalan berat,
menjadi remang petunjuk liku bagi sosok hamba yang tumbuh tanpa sandaran.
Kini, debu jalanan dan kerasnya takdir telah mengubah segalanya,
meninggalkan noda pekat yang merayap lambat di sepanjang dinding.
Warna keruh itu melekat erat, seirama dengan memudarnya serat pembungkus raga,
serta mengeringnya aliran hangat yang biasa mengalir di bawah indra yang dulu indah dan bening.
Sekat kokoh yang menggelap ini tidak pernah bersuara sedikit pun,
namun di sanalah seluruh sisa kekuatan hidup telah lama terkubur ranum.
Taiwan, 10 September 2026