Tangis di Senja
Karya: Jail Keni Aguselin SembiringSenja menumpuk pada ujung hari,
langit merengkuh sisa-sisa warna.
Di bawahnya, rahang malam menunggu,
dan aku menimbang setiap napas yang berat.
Tangisku bukan hanya suara,
melainkan peta luka yang tak bertuan,
airnya mengalir lewat kenangan,
mencuci bayang yang tak kunjung kembali.
Ada ragu yang menetap di kerongkongan,
mengingat kata-kata yang tak terucap;
ada sepi yang berputar di antara tulang,
menenun hening menjadi selimut tipis.
Namun setiap tetes yang jatuh,
memantulkan sisa cahaya senja,
seolah menyampaikan pesan kecil:
bahwa menangis juga cara memberi tanda hidup.
Ketika gelap akhirnya menutup hari,
tubuh ini lega meski rapuh,
karena tangis telah menulis goresannya,
dan besok, mungkin, aku belajar berdiri lagi.
Medan, 5 September 2026