Alkimia Sunyi
Karya: INDAH ALMAIDAHDi dalam tubuhku ada museum yang tak bernama,
menyimpan wajah-wajah yang pernah tinggal, lalu menjelma luka.
Awan gelap bertengger di dada, menurunkan hujan tanpa jeda,
sementara kenangan mengetuk sunyi di lorong-lorong yang terlupa.
Kelopak mata memeras duka, membasuh sisa-sisa kecewa,
dan pipi mengenal asin hujan yang jatuh tanpa suara.
Sebab tak semua yang basah harus dianggap binasa,
kadang, air mata justru menghidupkan jiwa yang lama terluka.
Tangis bukan tanda kita kalah, ia sungai penyembuh lelah,
yang mengalirkan beban menuju muara paling pasrah.
Maka biarkan hujan tinggal sebentar di dalam dada,
sebab dari genangan luka, sering tumbuh cahaya.
Mandailing Natal, 14 September 2026