Pemilik Embun di Tanah Retak
Karya: Ghaida Trisabila𝘏𝘢𝘳𝘢𝘱𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘭𝘶
𝘙𝘢𝘴𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘶
𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩𝘬𝘶, 𝘣𝘪𝘴𝘢𝘬𝘢𝘩…
Sudahlah. Mengapa kau terus menggerutu
menjelaskan bahwa kau, amat mencintai pria
itu?
Bukanlah, bukanlah, dan bukanlah
Bagaimana jika? Bukankah
Bukankah cinta sejati tak akan membuatmu
terombang-ambing di laut sejuta tanya
Bukankah cinta tidak membuatmu
meneteskan ratusan air bermakna untuk
seorang buta aksara pula rasa
𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩, 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘳𝘪𝘵… 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘳𝘪𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘩𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘚𝘐𝘈𝘓!
Kepalan kembali menghantam dada
Menusuk lalu menikam membabi buta relung
jiwa
Berhati-hati terhadap manipulasi cinta
Namun,
Sampai kapan gadis itu akan terus
menumbalkan hati
𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘔𝘈𝘛𝘐!
Sudahkah… Aku… Benar-benar… Cukup… untukmu, Tuan…
DIAM. AKHIRI ITU!
Nyata. Bukan kau yang diinginkan
Detak dalam detik menghentikan isak tangis
Menyadarkan bahwa pria yang dahulu datang
dengan cinta berani merekayasa rasa
Menyibak ribuan memori berharga
Tasikmalaya, 6 September 2026