Perempuan Yang Mengaduk Tawa
Karya: Frans Delutherman Fatoh S.PdK,Gr.Pagi belum sempat menguning
ketika emak membuat dapur menjadi putih.
Tepung melekat pada tangannya,
bahkan celah kukunya menyimpan pagi.
Emak tertawa ketika tepung
salah alamat ke wajahnya.
Tanganku hendak menghapus putih,
tetapi putih itu pindah ke hidungku.
Emak mengusap hidungku, lalu tertawa lagi.
Tangannya kembali mengaduk—
seolah ada tawa yang harus diuleni.
Adonan mengembang di bawah telapak tangannya,
tawanya merambat ke sudut-sudut rumah.
Aku tak melihat ragi di sana,
namun dinding seperti ikut mengembang.
Roti matang; dapur mulai menanggalkan putihnya. Di tangan emak, putih belum mau pulang.
Ia menepuk putih itu pada celemek,
namun telapak putihnya membekas.
Pagi telah jauh dari dapur,
roti tinggal remah di meja.
Tepung masih melekat pada tanganku—
dan tanpa sadar, aku tertawa.
Dumai, 10 September 2026