Lirih yang Tak Pernah Sampai
Karya: Evi Dwi SavitriDesau angin malam yang meraba kulit, mungkin terasa biasa bagi mereka.
Namun tidak bagiku,
yang tubuhnya telah terlanjur ringkih
oleh tajamnya bilah-bilah sembilu.
Dengan sisa energinya,
Ia berdiri dibalkon kamar seraya menatap riak saujana manusia,
Berselimut angan, serta menimbang logika.
Sebegitu haramkah rentetan kebahagiaan kecil yang bisa didapatnya?
Sampai ia harus merasakan kekecewaan demi memeluk sekeping kebahagiaan yang dunia pandang sebelah mata.
Tidak kah setiap Asmaraloka sudah direncanakan sebelum lahir?
Andai bentang dunia sedari awal terlihat, mungkin sebaiknya aku akan memilih abadi saja dalam angan yang tak pernah nyata.
Sontak pertanyaan keruh Kembali menyelimuti.
kemana rumah yang kata orang-orang nyaman itu, kehangatan yang seharusnya milik seorang anak?
mengapa bukan dia saja yang lahir, mengapa harus aku?
Toh dia kan seharusnya lebih kuat dibanding aku. Dan tanpa sadar.
“Manik-manik bening itu luruh perlahan membasahi bait-bait sepi diwajahnya.”
Makassar, 6 September 2026