Tangis Yang Tidak Masuk Berita
Karya: Arabella NayluferAku menangis malam ini,
diam-diam, seperti hujan yang tahu diri
jatuh tanpa meminta langit
untuk bertanggung jawab atas basahnya.
Katanya, menangislah jika perlu, asal jangan terlalu lama.
Sebab dunia tidak punya cukup waktu
untuk menunggu seseorang menyelesaikan dukanya sendiri.
Betapa baiknya dunia selalu punya nasihat
untuk luka yang tidak pernah ia rasakan.
Maka ku telan isak
bersama sisa-sisa harga diri.
Kubiarkan air mata menjadi saksi
atas nama-nama yang pernah kucintai,
atas janji yang tumbuh subur
lalu mati sebelum sempat berbuah.
Aneh, bukan?
Kita diajarkan sejak kecil bahwa menangis membuat lega.
namun ketika dewasa, air mata justru harus disembunyikan,
agar tidak dianggap lemah.
Seolah-olah menjadi manusia
adalah pekerjaan penuh waktu
untuk terlihat baik-baik saja.
Aku pernah menangis karena kehilanganmu.
Lalu menangis karena kehilangan diriku
setelah terlalu lama mencintaimu.
Yang kedua ternyata lebih menyakitkan.
Sebab bagaimana mungkin seseorang
berkabung atas dirinya sendiri,
sementara tubuhnya masih bernapas?
Malam semakin tua.
Tangisku perlahan reda,
Bukan karena luka telah sembuh, melainkan karena mata pun,
memiliki batas untuk mengeluarkan air.
Besok pagi aku akan bangun,
Mencuci wajah, menyisir rambut,
Dan kembali menjadi perempuan yang katanya kuat.
Tak seorang pun akan tahu, bahwa semalam
aku hampir menjadi puing.
Dan mungkin begitulah hidup.
Kita menangis dalam sunyi, kemudian tersenyum di hadapan dunia.
Bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena ternyata,
Kehancuran pun harus pandai mengikuti jam kerja.
Pangkal Pinang, 11 September 2026