Tawa yang pernah menjadi rumah
Karya: Andini IskandarTawa itu pernah menjadi rumah,
tempat segala sedih menemukan jeda.
Di antara riuh yang sederhana,
aku pernah merasa
dunia tak seberat biasanya.
Ada tawa yang masih tertinggal,
meski orangnya telah pergi.
Menempel di sudut-sudut ingatan,
datang tanpa permisi,
lalu membuatku tersenyum sendiri.
Kini aku mengerti,
tak semua tawa diciptakan untuk selamanya.
Ada yang hadir hanya sebentar,
namun bekasnya menetap
lebih lama daripada yang kita kira.
Dan jika suatu hari
tawa itu kembali terdengar,
aku tak ingin lagi bertanya
mengapa ia pernah hilang.
Cukup kubiarkan ia mengalir,
seperti dulu
makassar, 10 september 2026