Makam Yang Tak Bernisan
Karya: ANANDA INDRIA JEANYMakam Yang Tak Bernisan
Dulu,
sebuah cita-cita tumbuh
di rusukku
seperti benih yang diam-diam
memimpikan hutan.
Kusiram ia dengan doa,
kuberi ia matahari dari harapan,
hingga akarnya menjalar
ke seluruh penjuru dadaku.
Lalu datang suara-suara
yang membawa nama masa depan,
namun menggenggam gunting takdir.
Satu per satu
mereka memangkas langitku,
hingga tak tersisa
tempat bagi sayap untuk pulang.
“Bukan jalanmu,”
katanya.
Dan malam pun menjadi saksi:
aku menggali liang
untuk sesuatu yang masih hidup.
Kukuburkan mimpiku
dengan kedua tanganku sendiri;
tanpa nisan,
tanpa bunga,
hanya air mata
yang menjadi tanah terakhirnya.
Sejak hari itu,
aku berjalan di jalan yang asing,
sementara bayang-bayangku
terus menoleh ke belakang.
Barangkali,
begitulah tangis yang paling sunyi:
bukan air mata
yang jatuh dari mata,
melainkan sebuah mimpi
yang masih bernapas
di bawah tanah,
namun tak lagi
memiliki jalan
untuk pulang.
Sidoarjo, 1 September 2026