Karam
Karya: AMALIA HUSNADi relik tulang kersang, kusimpan elok deraian renjis dari kronik embun pagi.
Disegel ombak malam, dirapalkan hening saat sepucuk amplop kaca terbuka,
Langit mendarah temaram.
Garnet garam menetas pada semburat merah jingga,
Menjadi ngengat pucat yang mabuk akan cahaya,
Meninggalkan sayap tipis di antara ceruk dua pelipis.
Kupeta ulang benua yang karam
Dengan embun mata yang tenggelam dari jari pada pelangi tanpa alamat.
Telaganya bisu mengukir delta pada dua belas tulang rusuk,
Melarung sesaji rindu ke muara tanpa aurora,
Lalu menggantungnya sebagai konstelasi bagi yang pergi.
Dan rindunya kini candu menjelma biola,
Menggesek ruas kelopak bagi seribu satu prahara.
Rintik gerimisnya bak menjelma duri,
Dan kecewa seakan mengasah belati.
Pemalang, 30 Agustus 2026