BARANGKALI, MALAM TAU KEMANA KAU PERGI
Karya: Agustino Gawi LamakelelangMalam merajut sunyi
di antara cahaya yang tersisa;
namamu perlahan menjadi bayang,
bukan karena dilupakan,
melainkan karena waktu
tak lagi memberi kita tempat yang sama.
Di reruntuhan kenangan,
masih tumbuh jejak-jejak kecil:
tawa yang pernah tinggal,
tatapan yang pernah menetap,
dan percakapan yang kini hanya mampu
diulang oleh ingatan.
Ku titipkan rinduku kepada angin,
namun ia pulang tanpa jawaban.
Barangkali kau telah berlabuh
di suatu ufuk yang tak dapat ku tuju,
sebab tidak semua jarak
diciptakan untuk dipertemukan.
Sejak kepergianmu,
waktu terus mengalir tanpa menoleh.
Hari-hari mengajarkanku perlahan:
yang telah berlalu bukan untuk dikejar,
melainkan untuk diterima
sebagai bagian dari perjalanan.
Kini ku pahami,
mencintai tidak selalu berarti memiliki.
Ada yang hadir untuk menetap,
ada pula yang hadir untuk meninggalkan
sebuah cahaya—
cukup jauh untuk tak kugenggam,
namun cukup terang untuk kuingat.
Maka biarlah malam menyimpanmu
di antara bintang dan kesunyian.
Aku tak lagi meminta kau kembali;
cukup kutitipkan namamu pada doa,
hingga suatu hari nanti
aku mampu mengenangmu
tanpa kehilangan diriku sendiri.
jakarta, 2 September 2026