Karya: TRIZIA OKTAVIOLA
Dalam sembab
pria itu memeluk dirinya sendiri
di antara isak yang ditahan setengah mati
ia membisikkan ketenangan
pada jiwa yang lebur berkali-kali
Di dalam sunyi yang sesekali bertuan
dan dingin yang pasang surut
sebuah tanya menari-nari di pikiran
merajai isi kepala
membungkam segala logika
"Boleh, kan?"
ucapnya riuh dalam hati
Lalu perlahan, rasa itu mengalir
pelan, sunyi, tetapi hangat
tidak lagi dingin
tidak lagi membungkam
tidak lagi sendiri
Bersama air mata yang jatuh perlahan
hadir suara yang paling dinanti
ia yang menerima seluruh perih
ia yang selalu tahu cara menepi
"Menangislah,
sedihmu berhak bersuara."
Pangkalan Brandan, 23 Agustus 2026