Karya: Ribka Sianipar, S.Pd.
Di sudut senja, aku mendengar tangis
menetes lirih di pelataran kalbu.
Ia bukan sekadar air dari mata,
melainkan sungai duka mencari muara.
Langit mengulum kelabu,
rembulan menyembunyikan wajahnya.
Angin membawa kabar masa silam,
tentang asa gugur sebelum bersemi.
Wahai tangis,
engkau bahasa jiwa yang kehilangan aksara,
nyanyian sunyi dari dada yang retak.
Dalam tiap bulirmu, ada luka, nestapa,
dan rindu menjelma menjadi samudra.
Namun, malam tidak selamanya abadi.
Dari palung derita, fajar perlahan bertunas.
Tangis mengajarkan rapuh bukanlah akhir,
melainkan jeda sebelum jiwa kembali tegak.
Biarlah air mata menjadi tirta penyucian,
membasuh jejak kelam di lorong sukma.
Sebab setelah badai mereda,
lahir mentari dari rahim cakrawala.
Aku pun belajar:
menangis bukan berarti kalah,
tetapi keberanian untuk hidup setelah luka.
Pematangsiantar, 25 Agustus 2026