Karya: Maria Avrilia Novrince
Ibu, malam kembali datang sebagai semesta kelam yang mencekik napas raga ringkihku. Sejak punggungmu menjauh dan menghilang di balik gundukan tanah itu, duniaku runtuh tanpa sisa. Rumah yang dulu penuh dekapan hangatmu kini berubah menjadi labirin asing yang teramat dingin. Aku terjebak sendirian, meratapi nasib di atas puing-puing takdir yang hancur total.
Di sudut kamar yang gelap, bendungan air mata ini pecah bersimbah perih. Tangis ini adalah jeritan batin yang paling merana, meratapi luka menganga yang tak pernah menemukan penawarnya lagi.
Kembalilah walau hanya lewat mimpi, Ibu. Raga kosong ini teramat lelah berpura-pura tegar ditikam sepi yang kian menyiksa.
Maumere, 23 Agustus 2026