Dibaca: Memuat...
Paruh yang Menjelma Akar
Karya: KholifaAda tubuh yang belajar berdiri dari reruntuhan dirinya sendiri,
mengumpulkan serpihan yang dahulu disebut kegagalan,
menyusunnya diam-diam menjadi fondasi yang tak lagi rapuh.
Kutahu luka ini bukan lawan yang harus dikalahkan,
melainkan guru yang mengajarkan cara bertahan.
Dahulu aku mengira sembuh adalah menghapus jejak,
membuang setiap bekas seolah ia aib yang memalukan.
Namun waktu perlahan membisikkan kebenaran yang lebih jujur,
bahwa parut bukan cela pada kulit yang pernah terkoyak,
melainkan peta perjalanan yang membawaku sampai sejauh ini.
Malam-malam yang paling gelap pernah menjadi rumahku,
tempat aku menangis tanpa seorang pun yang mendengar,
tempat aku bertanya mengapa harus jatuh sedalam itu.
Namun justru di titik paling rendah itulah akar mulai tumbuh,
menembus tanah keras yang selama ini kukira mustahil ditembus.
Sebab pohon yang paling kokoh bukanlah yang tumbuh di tanah subur,
melainkan yang belajar mencengkeram di celah bebatuan,
yang menahan badai dengan akar yang terus menjalar.
Setiap kali angin mencoba merobohkannya kembali,
ia hanya semakin dalam menancapkan diri pada bumi.
Aku pun demikian, menjelma dari luka yang tak kunjung usai,
bukan karena luka itu berhenti terasa perih,
melainkan karena aku memilih membawanya dengan cara berbeda,
menjadikan setiap bekas sebagai bukti bahwa aku pernah bertahan,
bukan bukti bahwa aku pernah kalah.
Kini, ketika seseorang bertanya tentang parut di tubuhku,
aku tak lagi menunduk atau menyembunyikannya dengan malu.
Aku menjawab dengan mata yang tenang dan hati yang utuh,
bahwa setiap luka yang pernah kualami adalah alasan
mengapa aku bisa berdiri setegak ini hari ini.
Sebab tumbuh dari luka bukan berarti melupakan rasa sakitnya,
melainkan belajar menjadikan rasa sakit itu sebagai jalan,
menuju diri yang lebih dalam mengenal makna bertahan.
Pada akhirnya, akulah pohon yang tumbuh dari luka,
berdiri bukan meski pernah terluka, tetapi justru karena pernah terluka.
Gresik, 30 Juli 2026