Karya: KEZIA REHUEL WIDYASTUTI
Ada pintu yang tak pernah sempat kubuka.
Bukan karena aku tak ingin melangkah,
tapi musim datang
sebelum keberanianku sempat tumbuh penuh.
Tangis tak selalu jatuh dari pelupuk mata.
Kadang ia tinggal
di antara kalimat yang tak pernah terucap,
di dalam mimpi yang terus memanggil namaku,
namun tak lagi dapat kuraih.
Aku pernah menggenggam harapan
seerat anak kecil memeluk layang-layang.
Lalu angin keadaan
merebut talinya tanpa bertanya.
Kini aku mengerti,
kehilangan bukan hanya tentang seseorang yang pergi,
tetapi juga tentang kesempatan
yang diam-diam meninggalkan kita.
Meski begitu,
aku memilih menyimpan tangis sebagai cahaya,
agar setiap langkah yang tersisa
tak dipenuhi penyesalan,
melainkan keberanian untuk mencintai hidup,
meski tak semua mimpi diizinkan menjadi nyata.
Bogor, 23 Agustus 2026