ICCA QODRUNANDA - TANGIS YANG TUMBUH DI SUDUT WAKTU (OSN 3.8)

📅 25 Agustus
TANGIS YANG TUMBUH DI SUDUT WAKTU
Karya: ICCA QODRUNANDA


Ketika malam menutup pintu siang,
air mataku mengalir tanpa diundang,
bukan karena luka yang kentara,
melainkan rindu yang tak bersuara.

Tangis bukanlah tanda kelemahan,
ia adalah bahasa jiwa yang keletihan,
menyimpan beban yang terlalu lama dipendam,
lalu tumpah ketika sunyi memanggil pulang.

Aku pernah menahan sedu di depan cermin,
berpura tegar walau hati compang-camping,
sebab dunia mengajarkan bahwa air mata itu memalukan,
padahal ia hanyalah sungai yang mencari muara ketenangan.

Ibu pernah berkata, ""Menangislah jika perlu,
sebab hujan pun turun agar bumi tak layu.""
Kata itu kusimpan di ruang paling dalam,
menjadi pelita ketika duka datang menyerang.

Tangis anak kecil yang kehilangan mainan,
tangis pemuda yang gagal meraih cita-cita,
tangis ibu yang melepas anak merantau,
tangis lansia yang merindukan masa muda,
semuanya berbeda, namun satu makna,
bahwa hati manusia memiliki batas menahan luka.

Aku menyaksikan tangis yang berbeda warna,
ada yang berbisik pelan seperti gerimis senja,
ada pula yang meledak bagai badai di lautan,
namun keduanya sama-sama mencari kelegaan.

Pernah kulihat seorang lelaki tua di sudut jalan,
menangis diam-diam sambil memandang langit,
mungkin ia merindukan masa yang telah hilang,
atau menyesali waktu yang tak dapat diulang.

Tangis bukan sekadar cairan yang jatuh dari mata,
ia adalah cerita yang tak sempat terucap kata,
sebuah pengakuan bahwa manusia punya batas,
dan air mata adalah caranya melepas.

Aku pun belajar dari setiap tetes yang jatuh,
bahwa menangis bukan berarti runtuh,
justru dari sanalah kekuatan baru tumbuh,
seperti benih yang disiram hujan agar teguh.

Kini, ketika tangis itu datang menghampiri,
aku tak lagi berlari untuk menyembunyikannya,
aku biarkan ia mengalir sewajarnya,
karena di balik tangis, ada jiwa yang sedang menyembuhkan diri.

Dan pada akhirnya kusadari satu hal pasti,
bahwa tangis adalah bahasa hati yang paling jujur,
ia tak pernah berbohong, tak pernah berpura,
ia hanya ingin didengar, dipeluk, dan dimengerti.

Maka biarkanlah tangis itu tumbuh sewajarnya,
sebab dari air mata, manusia belajar tentang makna,
tentang kehilangan, tentang kesabaran, tentang harapan,
dan tentang bagaimana bertahan setelah kejatuhan.


Palembang, 25 Agustus 2026