Karya: Farida Nurkamilah
Dentang alarm membelah pagi,
tubuh berat perlahan ringan.
Tak sabar berjumpa,
dengan sepasang mata
yang menyambutku hangat.
Tawaku dicinta,
sedihku didekap,
tanpaku pinta,
senyumku kau jaga.
Oh, tuan…
sadarkah dirimu?
kau suka senyumku,
maka rajutlah kembali,
lengkung senyum di wajahku.
Sejak tawamu singgah,
pagi tak lagi sekadar pagi,
hari-hari menemukan warnanya.
Di antara begitu banyak manusia,
entah mengapa
semesta menitipkanmu
tepat di hari-hariku.
Oh, tuan…
jika tawamu adalah pagi,
biarlah senyumku menjadi cahaya,
dan bila langkahmu menuju pergi,
tinggallah.
Sebab di dekatmu,
duniaku tahu cara bahagia.
Bogor, 25 Agustus 2026