Karya: Emilius Dio
Di dalam rongga dada yang sepi,
ada telinga yang meluap,
namun airnya tak pernah jatuh ke pipi,
ia menguap menjadi sesak yang senyap.
aku mendengar gemuruh tanpa suara,
seperti ombak menghantam karang rapuh,
sebuah tangis yang sengsara,
adalah air mata yang diluruh ke dalam tubuh.
malam menyaksikan mata berkaca,
membaca luka yang tak tertuliskan,
seperti buku tua yang enggan dibaca,
menyimpan luka yang sengaja disembunyikan.
bukan karena lemah jiwa ini terjatuh,
namun beban dunia terlalu berat dipangku,
biarlah malam ini segalanya runtuh,
bersama air mata yang membasuh pilu.
esok pagi topeng harus kembali dipasang,
tersenyum ramah menyapa dunia yang bising,
sementara sisa badai semalam belum hilang,
meninggalkan jejak perih yang mengiris hening.
Nanga taman, 24 Agustus 2026