Dibaca: Memuat...
Ketika Luka Memilih Menjadi Akar
Karya: Dwi HanifaPernah ada malam
yang begitu panjang,
hingga aku lupa
seperti apa rasanya pagi.
Aku memeluk sepi
lebih lama daripada memeluk diriku sendiri.
Air mata jatuh
bukan lagi sebagai tangis,
melainkan bahasa
yang tak mampu diucapkan bibir.
Berkali-kali
aku ingin menyerah,
karena hidup terasa
seperti lorong tanpa ujung,
dan harapan
hanya bayangan yang terus menjauh.
Namun luka
tak benar-benar membunuhku.
Ia mengajariku
bahwa manusia bisa hancur,
tanpa harus hilang.
Hari ini aku berdiri,
bukan karena tak pernah rapuh,
melainkan karena setiap kepedihan
memilih tinggal,
untuk menjadikanku lebih kuat.
Jika kelak kau melihatku tersenyum indah,
ketahuilah—
senyum itu lahir
dari hati yang berkali-kali patah,
tetapi tak pernah berhenti
untuk memilih tetap hidup.
Riau, 30 Juli 2026