Karya: Chindi Aulia Divani
Aku selalu datang
ketika mereka kehilangan arah,
menjadi tangan yang menggenggam erat,
meski tak pernah kutahu
siapa yang akan menggenggam tanganku
saat aku jatuh.
Namun tak seorang pun bertanya,
apakah aku juga membutuhkan mereka.
Aku tersenyum ketika mereka tertawa,
menyembunyikan retak di balik dada.
Kukira kebaikan akan dikenang,
ternyata aku hanya dianggap
sebagai pintu yang selalu terbuka
untuk mereka masuk dan mengambil apa saja.
Malam-malam menjadi saksi
air mata yang jatuh tanpa suara.
Bukan karena lelah membantu,
tetapi karena sadar—
ketulusanku telah mereka jadikan kebiasaan,
dan hatiku mereka anggap tak mungkin terluka.
Kini, jika langkahku menjauh,
jangan sebut aku berubah.
Aku hanya sedang belajar berkata tidak,
sebab bahkan hati yang paling tulus
pun memiliki batas—
dan aku tak ingin terus menangis
demi orang yang tak pernah peduli pada lukaku.
Bandung, 23 Agustus 2026