Karya: Avrillia Sagita Putri
Hari itu rumahku tak lagi sama,
ketika kata perceraian menjadi akhir dari segalanya.
Ayah dan ibu memilih jalan berbeda,
sementara aku hanya mampu diam dan menangis.
Dulu, rumah adalah tempat ternyaman, tempat tawa terdengar setiap malan.
Kini, yang tersisa hanya kenangan dan sunyi yang terasa begitu penjang.
Aku melihat mereka berpisah,
membawa luka masing-masing dalam diam.
Tak ada lagi makan bersama,
tak ada lagi cerita sederhana di ruang keluarga.
Aku ingin marah,
tetapi kepada siapa?
Aku ingin menangis,
tetapi air mata pun seakan tak cukup untuk menggambarkan hancurnya hatiku.
Aku hanya seorang anak yang masih merindukan keluarga utuh.
Meski perceraian telah memisahkan mereka,
aku harap kasih sayang mereka kepadaku
tak pernah ikut bercerai.
Makassar, 24 agustus 2026