Epifani di Ujung Air Mata
Karya: ARRUM NANDYA BALQISMalam selalu tahu,
berapa kali Mama menangis setelah pintu ditutup
dan suara Papa menghilang bersama amarah
Namun esoknya, Mama tetap bangun sebelum matahari,
menanak nasi dengan tangan yang gemetar,
lalu tersenyum seolah tak pernah ada luka semalam.
Dulu, aku pernah bertanya, “Ma, mengapa mata Mama selalu basah?”
Mama hanya mengusap kepalaku, menghapus air matanya sendiri,
lalu berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Mama hanya lelah.”
Kini aku mengerti
bukan lelah yang membuatnya menangis,
melainkan cinta yang terlalu besar untuk membiarkanku ikut terluka.
Mama membesarkanku dengan separuh hati yang patah,
mengubah setiap tangisan menjadi doa,
setiap luka menjadi kekuatan.
Dan ketika aku menangis,
Mama selalu berkata, “Jangan takut, Nak.
Tangismu biar Mama yang hapus.”
Aku baru tahu kemudian,
selama ini Mama bukan hanya menghapus tangisku,
Mama menukarnya dengan air matanya sendiri
Baturaja, 28 Agustus 2026