Dibaca: Memuat...
Sisa Riang yang Menjadi FatamorganaKarya: Anggun Dwi Natasya Zebua
Keheningan selepas hujan,
hanya ada atmosfer dingin yang datang untuk menyapa.
Aroma tanah basah khas hujan,
sebagai ciri khas yang menyejukkan penuh dengan ketenangan.
Dedaunan hijau terlihat segar tatkala sisa-sisa rintik membasahinya.
Perlahan sisa-sisa rintik itu jatuh ke tanah,
lalu membawaku pada sisa memori yang tersimpan rapat di benakku.
Kala itu, Aku sempat berpikir menjadi salah satu diantara perempuan beruntung itu.
Tawa yang terlihat lepas,
Senyum yang tersungging manis,
lalu riang yang selalu terbingkai rapi di wajah.
Namun pada akhirnya riang itu menghilang,
Ia datang hanya untuk singgah bukan menetap.
Berlarut-larut dalam memori indah yang setiap sisinya tersusun dengan baik.
Dan menyadarkanku,
bahwa tawa dahulu hanyalah bayang-bayang.
Perlahan memori itu menghilang,
terguyur oleh rintik hujan yang membasahi bumi.
Bahkan semesta pun ikut andil menyadarkanku pada sisa riang yang terus membekas.
Sesekali juga Aku mengeratkan pegangan pada jaket, barangkali mampu menghangatkan hati yang terasa dingin.
Menghangatkan hati yang sekian lama dingin pada bayang-bayang dan kesendirian.
Deli Serdang, 26 Agustus 2026