EPITAF DARI SEBUAH MIMPI
Karya: Wiwin widya juliantiTak ada pemakaman yang bersedia menerima sesuatu yang tak bernapas, namun pernah menghidupi seseorang.
Maka kutegakkan batu tanpa nama, di atas tanah tempat harapan terakhirku rebah.
Tak kutulis apapun, sebab retakan lebih fasih daripada aksara.
Burung burung melintas tanpa mengetahui bahwa di bawah tanah ini tertidur musim yang tak sempat menjadi bunga.
Hujan turun perlahan, menghapus jejak dari dunia yang dahulu kubangun dengan kata "nanti".
Jika suatu hari kau menemukan nisan ini, jangan bertanya siapa yang dimakamkan.
Sebab yang berbaring bukan sekadar mimpi, melainkan seseorang yang kehilangan arah pulang, lalu belajar menyebut kehilangan sebagai kehidupan.
Medan, 11 Juli 2025