Embun yang Lebih Dulu Mengetahui
Karya: Siti FatimahAnila menghela napas,
desirnya menyibak lebam
di kalbu insan yang renta.
Pada lekuk kalbu,
memar-memar tinggal,
sebagian masih basah,
sebagian telah berlumut.
Lakrimal kembali melimpah,
membasahi tepian netra
yang saban petang menenun
asa yang sama.
Sampailah saat Anila merobek
perban yang belum kering,
dan luka kembali belajar
mengingat warna merah.
Ia menatap bingkai cita-cita
yang digantung musim.
Di sudut kacanya,
debu belum selesai menetap.
Namun, akar diam-diam
menghafal arah hujan,
meski langit belum
mengucap restu.
Di ufuk timur, sebutir benih
menembus retak batu.
Tak ada tepuk tangan,
hanya embun yang lebih dahulu mengetahui.
Sukoharjo, 20 Juli 2026