Sepetak Tanah untuk Kasih Sayang
Karya: SalsabilaSedari kecil aku bertumbuh di sela retakan dinding.
Rumah adalah arsitek pertama
yang mengajari dadaku cara menerima patah.
Aku mengecap perih bukan dari merah darah,
melainkan dari sepasang mata yang tabah menyembunyikan hujan.
Di sini, suara sanggup lebih tajam dari belati,
dan senyap menjadi ruang paling bising bagi kepala seorang anak kecil.
Pernah berulang kali aku ingin menudingmu, Ibu.
Namun, setiap kali kutatap gurat lelah di wajahmu,
aku melihat seorang musafir yang juga tengah tersesat,
mencari jalan pulang menuju dirinya sendiri.
Barangkali, luka memang gemar berpindah,
menjelma warisan dari satu dekapan ke dekapan berikutnya.
Namun hari ini, biarlah berakhir padaku silsilah duka itu.
Aku ingin menjadi sepetak tanah tempat amarah berhenti berakar, agar kasih sayang tak lagi lupa jalan pulang.
Stabat, 18 Juli 2026