Tumbuh dari Luka
Karya: Lintang ayu zaerah fazryDi rumah yang menyimpan gema,
aku belajar mengeja diam
agar tangis tak menjelma bising.
Langit pernah runtuh di pelupuk mata,
sementara langkah dipaksa
untuk tetap mengenal arah.
Kukira luka adalah penjara
yang menguring harapan hingga layu.
Namun, akar tak memilih tanah,
ia hanya tekun menembus gelap
demi sehelai cahaya.
Kini kupahami,
setiap retak menyisakan ruang
bagi doa untuk bertumbuh.
Air mata bukan akhir perjalanan,
melainkan embun
yang menguatkan pucuk-pucuk harapan.
Kelak, bila namaku kembali dipanggil kehidupan,
aku ingin dikenang
bukan sebagai seorang yang tak pernah terluka,
melainkan seorang yang tetap mekar
meski berkali-kali patah.
Indramayu, 13 Juli 2026