Puing Menyimpan Musim Mekar
Karya: Laela TujahroDulu, puncak prestasi menjulang kugenggam,
Langkah riang, dipeluk hangat semesta nan tenteram.
Namun di ambang kelulusan, badai merenggut nadi Ayahku,
Seketika runtuh, porak-poranda seluruh duniaku.
Gerbang harapan tertutup, pundi-pundi pun tumbang,
Memaksa jemari mundur, mengubur mimpi yang mengambang.
Aku yang manja, hanya tahu meminta tanpa pilu,
Kini dipaksa mandiri, memeluk bingung yang membelenggu.
Dunia menjauh, meninggalkanku karam dalam lara,
Dua kali pisau bedah merobek raga yang cedera.
Jiwa remuk, raga rapuh, menangis di balik jeruji sepi,
Meratapi asa kuliah yang hampir mati terbentur realitas diri.
Namun, bara api di dada menolak padam,
Luka-luka menjelma akar yang menghujam tajam.
Tuhan mendengar jerit paling sunyi saat malam menghitam,
Hingga dua beasiswa datang, membungkam keraguan yang kelam.
Aku tak lagi menangisi puing,
sebab di sanalah
Tuhan mengajariku cara mekar.
Cirebon, 17 Juli 2026