Butir Kilau
Karya: Kayana Aretha Putri MaryawanDi dasar laut,
aku tak pernah merasa
lahir sebagai butir kilau pesona.
Sebab aku menapak
dari arus menggulungku pergi,
garam mengikis,
alam lapang yang merengkuh
sejuta takut,
dan sesuatu asing tajam
yang tersemat
—menyusup tumbuh dalam jiwaku.
Kecil, hanya serpihan
namun cukup tajam
untuk tinggal
sembari merajut nestapa.
Meski asin menguliti
perih dan anyir menghampiri,
Kian ombak terus bergemuruh
di atas kepalaku
dan waktu tak henti
seperti pasang yang tak mengerti
pasal-pasal perihal lelah—
aku tak membuangnya jauh.
Justru kian kupeluk hangat
tiap tusukan tajam
dalam hampa kedalaman.
Sampai dimensi habis itu terbuka
dan aku pergi tanpa menginjak
tanah kembali,
Sorak-sorai dunia akan menelisik
dan kutahu, aku disebutnya dahayu.
Atas dunia yang saling menjamahku
Kokoh dan cemerlang
Tanpa mereka tahu
aku hanyalah sebutir kilau
yang tumbuh dari luka.
Lampung, 11 Juli 2026