Arsitektur Kehilangan
Karya: Kamila Jasmiine Az-ZahraWaktu hampir luruh,
dan ruangan menelan segala bunyi.
Katanya, hidup akan berjalan
sebagaimana doa-doa yang dipanjatkan.
Namun hidup selalu lebih lekas
dari mimpi yang tengah kurapikan.
Kau berpulang,
sementara aku masih membangun masa depan
yang kehilangan satu penghuninya.
Sejak itu,
satu per satu dinding harapku retak tanpa suara.
Aku kehilangan alasan menyebut esok sebagai harapan,
sebab tak ada lagi yang menungguku
di ujung perjalanan.
Aku dipaksa menjadi penopang
sebelum sempat dibangun utuh.
Di sela kehilangan
yang tak sempat kuhitung,
ada mimpi-mimpi
yang ikut terkubur bersamamu:
berdiri setinggi doamu,
menjadi jawaban bagi penantianmu,
hingga bermuara pada senyummu.
Kini aku memungut serpihan harapan,
seolah mencari kembali batu pertama
dari rumah yang tak pernah selesai kubangun.
Dan aku mengerti,
seluruh mimpiku
selalu pulang
pada satu nama:
ibu.
Bekasi, 21 Juli 2026