Jiva yang kembali purna'
Karya: Fhiona Fherolita Al-FathiTak semua yang patah
ditakdirkan menjadi sia-sia.
Ada yang justru menemukan bentuk terbaiknya
setelah kehilangan rupa semula.
Dulu, aku membenci luka.
Hingga kusadari,
ia hanyalah sebuah pintu
yang memaksaku kembali
bertemu dengan diri sendiri.
Semesta berbisik tentang alur waktu
bahwa yang hadir akan pergi,
dan yang hilang
tak pernah benar-benar musnah.
Sebab di balik reruntuhan akar,
ada harapan yang diam-diam mencari cahaya.
Dari basahnya air mata,
tumbuh jiwa yang tak lagi takut
menghadapi badai.
Kini aku mengerti,
luka bukanlah akhir cerita.
Ia hanyalah tanah tempat keberanian
memilih untuk bersemi kembali.
Surabaya, 28 Juli 2026