Dibaca: Memuat...
MEMUNGUT ARUNIKA
Karya: Erlina Dia PratiwiDi bawah naungan swastamita yang meremang,
aku mengeja puing-puing cita yang lebur menjadi dusta.
Prahara telah mematahkan dahan-dahan harapan,
menyisakan jelaga di dalam kalbu yang kian senyap.
Aku pernah mengira, runtuhnya mimpi adalah akhir dari senandika,
bahwa di atas tanah tandus ini tak ada lagi arunika.
Namun, di dalam kesunyian yang paling kelam,
luka tidak hadir hanya untuk menghancurkan.
Ia adalah niskala yang mengikis keangkuhan raga,
mengajarkanku mengeja madah di balik rasa sakit.
Setiap sayatan menjadi celah bagi udara segar,
setiap air mata menjadi gerimis penyiram akar.
Kini, kubiarkan jemari meraba tanah retak.
Sebuah tunas muda mulai menembus kegelapan,
menyelaraskan detaknya dengan irama semesta.
Rasa sakit itu kini berganti menjadi renjana yang membakar dada,
mendorongku berdiri tegak di bawah langit lazuarti.
Sebab aku adalah nawala yang ditulis oleh ketabahan,
merayakan keberanian untuk tumbuh lebih utuh.
Purworejo, 23 Juli 2026