Dibaca: Memuat...
Terkubur
Karya: DIAH PRAMESTI SEKARWANGIKatanya,
aku adalah harapan
Di pelupuk bapak
terlukis jas putih
Di telapak ibu
terselip doa yang lirih
kelak gadis kecilnya
menjadi penyelamat
Kau susun
setiap anak tangga kehidupan, Pak
Kau ajarkan
cara menapaki masa depan
Namun mengapa,
tak satupun pijakan
cukup kuat menahan
beratnya beban
Kau ikatkan
tali-tali pengharapan, Bu.
Namun mengapa,
panjangnya sebatas tali pusar
yang dahulu menghubungkan kita
Tubuh yang kian lemah ini
masih menyimpan
jejak dekapan
Pergi
Meninggalkan tubuh ini
berjalan sendiri
di rumah yang kehilangan bunyi.
Kurakit kembali
segala harapan
Kusiram jiwa
yang perlahan mati
Kukumpulkan
serpihan mimpi
yang berserakan
Namun rupanya,
takdir belum selesai
mengikis tubuh ini
Diambil-Nya pula
sebelah kaki
Tak apa.
Bukankah
tempatku berpijak
telah lebih dahulu hilang
saat kalian pulang
Kini langkahku pincang
Mimpi itu
perlahan runtuh
bersama langkah
yang tak lagi utuh.
Kupandangi tubuhku
yang membeku.
Anak yang malang, batinku.
“Jadi dokter,” kataku
menyelamatkan diri sendiri pun
aku tak mampu.
Mimpiku,
tertimbun bersama raga
yang tak lagi mampu
memikulnya.
Tulungagung, 29 Juli 2026