Aku Dihadapkan Pilihan
Karya: ASMIRANDA
Jalan yang kecil, namun langkah yang berat,
Membawaku masuk pada zaman sekarang,
Kisah yang akan selalu terukir
dalam sejarah hidupku.
Sungguh aneh, tapi ini nyata.
Aku tumbuh dengan luka
yang tak sempat berbicara
Kepada siapa,
Di mana,
dan Bagaimana.
Ia tak terlihat,
Namun jatuhnya menghancurkan,
Kadang bermakna tak masuk akal.
Aku belajar tersenyum
Saat namaku terseret dalam hiburan mereka.
Dunia terlalu terang
untuk aku yang berduka,
Mengandalkan hati dan empati.
Aku menyebutnya dunia tak terlihat.
Aku adalah generasi
yang dibesarkan oleh luka yang disamarkan.
Aku menipu banyak orang
yang melihatku bahagia di layar.
Mereka tak akan pernah tahu ceritaku.
Aku yang dihadapkan pilihan
Memilih hidup tak nyata,
Membiarkan diriku terluka.
Mereka melihat, menyukai,
dan mengomentari,
Seakan aku haus validasi.
Aku remaja yang pandai tertawa,
Namun sering kalah saat sendirian.
Ini bukan pilihan,
Menghancurkan diri
dengan kepala yang berisik.
Aku tidak selalu ingin mati,
Hati yang tak pernah benar-benar pulang,
Lewat diamku yang terlalu panjang.
Seolah luka adalah bahasa
yang paling cepat terdengar
Di dunia yang menyuruhku kuat.
Aku ditertawakan saat rapuh,
Di dunia yang gemar menilai
Aku kehilangan tempat untuk jujur.
Aku bertanya pada diriku
Apakah aku menghilang
sudah merasa cukup tenang?
Namun suara-suara itu
selalu berbisik padaku
Ia bernama harapan,
Kecil,
Gemetar,
Namun tetap bernapas.
Hari ini aku tidak berjanji sembuh.
Aku hanya berjanji tidak melukai tubuhku.
Pilihan hidup yang kujalani
hanya aku yang tahu.
...
Menyiksa tubuhku
Hanya untuk tenang
Hanya untuk bertahan sekali lagi.
Lewat kata yang tak sempat berbicara,
Ini aku
Dengan pilihanku
Hadapkan aku pada kebahagiaan yang nyata.
Watampone, 15 Juli 2026