BAHASA YANG TUMBUH DARI LUKA
Karya: ANA FAHIRIN KAILADiatas tanah yang retak oleh kecewa
Aku pernah mengubur suaraku sedalam dalamnya.
Kukira,sepi adalah cara terbaik untuk mengepalkan perih agar tidak menjelma air mata
Namun, di sepertiga malam yang sepi aku merenung
Terdengar jam dinding berdetak cepat
seolah menandakan waktu terus berjalan
Aku tidak lagi menangisi apa yg telah runtuh,
Sebab dari retakan itu , caraku bercerita menjadi utuh.
Luka ini telah selesai menjadi rasa sakit,ia telah tumbuh, menjadi bahasa yang membakar langit.
Kini keheningan bukan lagi penjara yang mengurung perih, melainkan ruang luas tempatku merajut kembali sayap-sayap yang sempat patah. Di bawah tatapan langit malam yang menyaksikan metamorfosis ini, aku berdiri tegak di atas puing-puing masa lalu yang telah melahirkan kekuatan baru.
Setiap jejak retakan berubah menjadi pondasi kokoh, dan setiap tetes air mata menjelma bait-bait doa yang menguatkan jiwa. Langkahku kini tidak lagi ragu menyongsong fajar, sebab aku tahu, badai terhebat pun telah berhasil kulewati dengan senyuman.
palembang,23 juli 2026