Ziarah ke Tempat yang tak Pernah Ada
Karya: Almira Imla Nur'ainiAku berasal dari sebuah sepulcrum florens
makan yang lebih memilih berbunga
alih-alih selesai berkabung.
Di sana,
waktu berjalan dengan langkah seorang algojo tua;
pelan,
tetapi selalu membawa sesuatu untuk dikuburkan.
Aku dibesarkan oleh engsel
yang lebih fasih daripada percakapan,
oleh kaca-kaca yang memahami anatomi jatuh,
dan oleh jam dinding
yang setiap malam mencatat peperangan sebagaimana juru tulis kuno menyalin kronik keruntuhan
ke dalam lembaran yang tak pernah selesai.
Barangkali setiap itulah
aku tumbuh seperti lumut
di tubuh bangunan yang runtuh
diam-diam,
pelan-pelan.
mempelajari bahwa kehidupan memang ditakdirkan berakar pada tanah yang pernah menjadi reruntuhan.
Mereka menyebutnya itu luka.
Justru aku, lebih menyukai nama
hortus vulnerum--
Taman tempat segala yang patah diam-diam berlatih menjadi bunga.
Banten, 13 Juli 2026